Biografi Singkat Ibnu Sina, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

  • Whatsapp
Biografi Tokoh Lengkap

Biografi Ibnu Sina | Biografi Singkat Ibnu Sina | Profil Ibnu Sina | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat Ibnu Sina : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Ibnu Sina mempunyai nama lengkap Abu al-Ali Husein ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn Ali Ibnu Sina atau di dunia Barat dikenal dengan nama Avicenna. Ia dilahirkan pada bulan Safar di desa Afsana, pada tahun (370-428 H/980-1037 M) sebuah desa dekat dengan Bukhara (kini termasuk wilayah Uzbekkistan) pada masa sebuah dinasti Persia di Asia Tengah. Ibunya yang bernama Setareh yang berasal dari Bukhara. Ayahnya bernama Abbdullah ia adalah seorang sarjana yang dihormati berasal dari Baklan (kini menjadi wilayah Afganistan), yaitu sebuah kota penting di masa pemerintahan Dinasti Samaniyah. Abdullah sangat berhati-hati dalam mendidik anaknya Ibnu Sina di (Bukhara).

Sejak kecil, Ibnu Sina memang menunjukan daya intelektualitas tinggi serta ingatan yang kuat. Maka, bukan hal yang mengherankan jika ia mampu menyerap ilmu dengan lebih baik dibanding temanteman sebayanya. Bahkan di usia muda ia telah mampu menyerap ilmu para gurunya. Dalam hal ini, guru-guru Ibnu Sina berasal dari berbagai kalangan. Sebagai contoh, ia belajar aritmatika dari seorang pedagang sayuran asal India di pasar. Hampir semua orang yang berpengetahuan luas didekati oleh Ibnu Sina dan ia belajar dari mereka.


Di sinilah ia belajar (Bukhara), ke pada gurunya yang bernama Abu Abdullah An-Naqili ia belajar banyak ilmu mulai dari Al-Qur‟an, sastra, manithiq, kedokteran, fisika, metafisika, astronomi, dan lainlain. Sejak usia muda Ibnu Sina telah menguasai disiplin ilmu tersebut. Bahkan saat usia 10 tahun Ibnu Sina telah hafal Al-Qur‟an.

Pribadi Ibnu Sina sangat unik. Saat masih remaja, ia membaca buku metafisika yang di tulis oleh Aristoteles. Hanya saja, ia mengalami kesulitan untuk memahaminya meskipun telah membacanya sebanyak 40 kali dan sudah menghafalnya. Akhirnya, ia menemukan buku Al-Farabi yang mengulas tulisan metafisika Aristoteles. Ia membelinya di sebuah kios kecil.

Ibnu Sina mulai mempelajari ilmu kedokteran pada usia 16 tahun. Tidak hanya belajar teori, ia juga memperaktikanya, lalu Ibnu Sina pergi ke desa-desa untuk mengobati orang miskin dan tidak mampu serta menjadi guru bagi anak-anak mereka. Dari pengalaman itulah ia banyak menemukan metode dan obat-obatan baru. Ia memperoleh status penuh sebagai dokter yang berkualitas di usia 18 tahun. Di usia yang masih sangat muda tersebut ia semakin bersemangat mempelajari berbagai bidang ilmu.

Ketenaraan Ibnu Sina sebagai dokter muda segera menyebar dengan cepat. Terlebih, ia merawat banyak pasien tanpa membayar sedikit pun. Mendengar ketenarannya, pada tahun 997, penguasa Samaniyah yang bernama Nuh II memanggil Ibnu Sina untuk mengobati penyakitnya. Kemudian, Ibnu Sina berhasil menyembuhkannya. Sebagai hadiah, Ibnu Sina diberi akses untuk membaca buku-buku di perpustakaan Dinasti Samaniyah. Ketika itu, selain belajar otodidak Ibnu Sina pun menulis, dan ia juga membantu ayahnya sebagai pengelola keuangan.

Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal dunia. Dinasti Samanaiyah kemudian hancur pada bulan desember 1004. Ibnu Sina memutuskan meninggalkan tanah kelahirannya dengan berjalan ke Urgench (kini berada di Turkmenistan). Di sana, Ibnu Sina sempat diangkat menjadi penjabat di pemerintahan. Namun, karena hanya mendapat bayaranya tidak seberapa, ia melepas jabatanya dan kembali mengembara ke berbagai tempat. Ia berjalan melewati Nishapur dan Merv sampai ke perbatasan Khurasan demi mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan minatnya.


Suatu ketika, Ibnu Sina sampai di Tabaristan. Ia diterima oleh Qabus (penguasa setempat) sebagai pencari suaka. Namun, tak lama kemudian, yakni pada tahun 1012, Qabus mati kelaparan akibat ulah pemberontak. Ibnu Sina sendiri pada waktu itu dilanda penyakit yang cukup parah. Akhiranya, ia mengembara lagi ke Goran yang merupakan daerah di dekat Laut Kaspia. Di sana, Ibnu Sina bertemu dengan seorang teman yang baik hati. Teman itu membelikan sebuah hunian sekaligus membangunkan lembaga pendidikan untuk Ibnu Sina. Di tempat itu, Ibnu Sina memberi kuliah logika dan astronomi. Di sana pula ia menulis sebagian dari Qanun fi al-Tib.

Tak lama setelah itu, Ibnu Sina kembali mengembara hingga menetap di Rey (kini menjadi bagian dari kota Teheran, Iran). Di sana, ia disambut oleh Majd ad-Daulah, anak terakhir dari bupati Rey. Sekitar 30 karya pendek Ibnu Sina di tulis di kota tersebut. Namun, tidak lama setelah itu terjadi permusuhan anatara bupati Rey dengan putera keduanya bernama Sham al-Daulah. Hal ini memaksa Ibnu Sina meninggalkan Rey dan mengembara lagi hingga ke Qazvin dan menetap disana. Lalu Ibnu Sina meneruskan pengembaraannya hingga selatan Hamadan. Ia memutuskan tinggal di tempat yang sudah dikuasai oleh Sham al-Daulah tersebut. Di sana, ia menjadi pelayan sebuah keluarga kaya. Namun, penguasa setempat mendengar kedatangannya. Ia pun di panggil untuk diangkat sebagai petugas medis dan kemudian penjabat pemerintah. Namun, Ibnu Sina banyak diserang oleh para ilmuan lain dan masyarakat umum karena pemikirannya di anggap ortodoks. Pada akhirnya, penguasa memutuskan untuk mengusir Ibnu Sina. Pada masa genting tersebut Ibnu Sina, masih setia menulis dang mengajar pada malam hari secara diam-diam.

Baca Juga :   Sejarah Desa Trusmi Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Karena keuangannya semakin menipis, Ibnu Sina menulis surat kepada Abu Ja‟far, penguasa Isfahan, untuk menawarkan jasa. Lalu penguasa Hamadan mengetahui korespondensi ini dan menemukan tempat persembunyian Ibnu Sina. Kemudian, ia disekap dan dijebloskkan ke penjara tahun 1024. Ketika perang usai, Ibnu Sina dikeluarkan dari penjara dan ditunjuk kembali oleh penguasa Hamadan. Kemudian ibnu Sina melarikan diri Hamadan menuju Isfahan. Di tempat itulah Ibnu Sina disebut secara terhormat oleh penguasa setempat.

Menjelang akhir hayatnya, Ibnu Sina menjadi pelayan penguasa Kakuyid bernama Muhamad bin Rustam Dushmanziyar. Di sana, ia diangkat sebagai dokter umum, penasihat sastra dan sains, bahkan sering diikutkan dalam kampanye-kampanye politik. Suatu ketika, Ibnu Sina diangkat sebagai panglima militer Isfahan dalam perang melawan Hamadan. Ia ditangkap oleh tentara Hamadan dan dipukuli secara sadis sampai tidak mampu berdiri. Dan pada saat itu penyakitnya kambuh, di tengah-tengah yang sakitnya parah kemudian Ibnu Sina melepaskan jabatan resimen militer dan kembali ke Hamadan dalam kondisinya yang sakit keras, Ibnu Sina sulit mencari tempat tinggal karena dibenci oleh penguasa Hamadandan teman-temannya menyarankan agar ia mengambil sikap moderat agar bisa diterima oleh orang-orang istana.

Namun, ia menolak dengan tegas saat sakitnya sudah amat parah, Ibnu Sina memberikan semua harta bendanya kepada kaum miskin. Dan kemudian ajal betul-betul menjemputnya pada bulan Juni pada tahun 1037. Lalu ia dimakamkan di Hamadan, Iran. Dan meskipun umurnya hanya 58 tahun, kontribusi Ibnu Sina bagi perkembangan ilmu pengetahuan termasuk psikologi sangat tidak ternilai banyaknya.

Pemikiran Ibnu Sina

Dalam sejarah pemikiran fisafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina banyak hal diantara para filosof Muslim, ia memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satusatunya filosof besar Islam uang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat Muslim selama beberapa abad, meskipun ada serangan-serangan dari Al-Ghazali, Fakhr al-Din al-Razi dan sebagainya.

Pengaruh ini terwujud, bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia miliki itu merupakan keaslian, yang menunjukan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali rasinoal murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dalam keagamaan. Karakteristik paling dasar dari pemikiran Ibnu Sina adalah pencapaian definisi metode pemisahan dan pembedaan konsep-konsep secara tegas dan keras. Hal ini memberikan kehalusan yang luar biasa terhadap pemikiran-pemikirannya. Tantanan itu sering memberikan kompleksitas skolastik yang kuat dan susunan yang sulit dalam penelaran filsafatnya, sehingga mengusik temperamen modern, tetapi dapat dipastikan, bahwa tatacara ini jugalah yang diperoleh dalam hampir seluruh doktrin asli para filosof Islam.

Karya-Karya Ibnu Sina

Ia adalah dokter di Dunia Barat dan ia seorang filsuf, ilmuan dan kehidupannya merupakan perjuangan yang bisa diteladani masyarakat awam. Ia hidup pada periode ketika dunia Muslim sedang mengalami perubahan pesat, dan kegelisahan jiwanya tidak dapat memberikan kemerdekaan dan kedamaian yang diperlukan oleh kesibukan pekerjaan intelektual besar seperti yang dikerjakannya. Ia penyusun ensiklopedia terbesar abad pertengahan, seorang jenius yang meninggalkan jejak-jejak yang tak ternilai di berbagai cabang ilmu pengetahuan. Karyanya,meliputi logika, kedokteran, filsafat, matematika, astronomi, geometri, etika, politik, tafsir, kesusastraan, dan musik. Konon ia mampu menulis rata-rata 50 halaman per hari, dan selama hidupnya tidak kurang dari 238 buku dan risalat. Karya-karya tulisnya dikerjakan di Bukhara pada usia 21 tahun, kemudian dilanjutkan di Ray Hamadan, dan Isfahan. Karya utamanya di bidang filsafat, Asy-Sifa dan An-Najat. Ia juga merampungkan karyanya tentang etika dan Al-Magest, yang kemudian ditambah dengan 10 bab. Ia menulis risalat tentang geometri, ilmu hisab, dan musik. Ia mengemukakan hal baru dalam ilmu hisab dan menyangkal sejumlah teori yang di buat oleh Eucild. Ia menulis dua buku tentang zoology dan botani selama perjalanan ke Nishapur.

Baca Juga :   Sejarah Singkat Kabupaten Rokan Hilir (Sejarah dan Profil)

Di Isfahan, ia menulis Danish Namai Alai, Kitab Al-Insaf dan karya-karya tentang kesusastraan dan leksiografi. Karya raksasanya, AlQannun Fil Tib, terkenal dalam bahasa Latin sebagai Canon, merupakan puncak dan mahakarya sistematisasi Arab.

Esiklopedia kedokteran ini ditulis dalam lima jilid, memuat 760 obat-obatan, di samping kedokteran umum, obat-obatan sederhana Ibnu Sina memiliki peranan yang menonjol dalam bidang kedokteran dan berbagai cabangnya. Ia telah melakukan penelitian yang besar dan mendapatkan penemuan penting yang diabadikan oleh sejarah kedokteran. Berikut ini sebagian dari penemuan tersebut:

  • Dalam cara pengobatan:

Ibnu Sina adalah orang yang pertama kali menemukan cara pengobatan bagi orang sakit dengan cara menyuntikkan obat ke bawah kulit.

  • Dalam mengobati orang yang tercekik kerongkongannya:

Ibnu Sina membuat penemuan dari pipa udara yang terbuat dari emas dan perak, kemudian dimasukkan kedalam mulut dan diteruskan ke kerongkong untuk mengobati orang yang tercekik dan sulit bernafas. Cara seperti ini masih tetap dipakai hingga sekarang untuk mengobati pasien dengan penyakit yang sama. Kemudian alat ini juga dipergunakan oleh para dokter anaesthesia sekarang untuk memasukan gas bius dan oksigen ke dada pasien, akan tetapi alatnya dibuat dari karet atau plastik.

Dr. Musthofa Sahatah menegaskan bahwa cara pengobatan Ibnu Sina pada kerongkong telah unggul sebelum dengan tingkat akurasi dan kesembuhan yang tinggi, sebagaiamana ia membuat gambar anatomi yang tidak jauh berbeda dari apa yang kita ketahui sekarang. Ia juga menjelaskan bagian-bagian dari anatomi itu dan fungsinya, baik ketika berbicara, bernafas, mengunyah dan lainnya yang dikenal pada masa kita sekarang ini dengan sebutan ilmu fungsi anatomi. Dr. Sahatah menjelaskan secara rinci dengan berbagai macam penemuan Ibnu Sina dalam hal ini seraya mengatakan, “ia telah mengkhususkan bab ketiga dari “Kitab Al-Qanun” untuk menjelaskan berbagai macam penyakit yang menyerang anggota badan, diantaranya adalah tentang penyakit pada tenggorokan. Ia telah berhasil menemukan penemuan ilmiah yang besar, yakni untuk pertama kali dalam sejarah ia memamparkan tentang penyakit tenggorokan dan sebab-sebabnya. Ia juga menjelaskan tentang gangguan pada tenggorokan, tanda-tandanya, dan cara pengobatannya. Ia juga berbicara tentang penyakit batuk, macam-macamnya, dan sebab-sebabnya. Pengetahuan tentang ini masih dipergunakan dibidang kedokteran hingga sekarang”.

  • Dalam mengobati penyakit pada kepala:

Ibnu Sina mengetahui hakekat ilmiah penting bahwa tulang tempurung kepala apabila pecah tidak dapat melekat kembali seperti tulang lainnya pada badan, melainkan ia akan tetap terpisah dan hanya terikat dengan selaput yang kuat. Ia mengatakan tentang hal itu, “Ketahuilah bahwa tulang kepala berbeda dengan tulang lain apabila pecah. Ia tidak dapat menyatukan kemabli dengan kuat, karena hanya diikat oleh selaput sebagaimana selaput lainnya yang mengikat semua tulang, akan tetapi ini tidak kuat”.

Ibnu Sina membagi pecahnya temperung kepala kepada dua macam berdasarkan ada atau tidak adanya luka pada kepala:

Pertama Pecah tertutup: pecah pada temperung kepala seperti ini biasanya tidak disertai luka, akan tetapi ini sangat berbahaya karena ia bisa berubah menjadi tumor dan menyebabkan tertahannya darah dan nanah. Dalam hal ini Ibnu Sina mengatakan “kebanyakan tumor terjadi pada kepala yang pecah tetapi kulitnya tidak terkelupas. Apabila dilakukan pengobatan pada tumor dan tidak dibelah barangkali ia akan merusak tulang dari bawah, sehingga si penderita akan kehilangan akan dan gejala lainnya, sehingga perlu dibelah.”

Kedua Pecah terbuka: pecah pada tempurung kepala seperti ini biasnya disertai luka.parah atau tidaknya tergantung kepada besarnya luka dan kerasnya benturan pada tulang tempurung kepala yang menyebabkannya pecah. Berkenaan dengan masalah ini, Ibnu Sina mengatakan, “ Karena itu, kita perlumemperhatikan kondisi pecanya dan sejauh mana kekuatan yang memecahkannya, apakah hanya sebatas di kulit kepala atau sampai pada tulang.

Baca Juga :   Biografi Singkat KH Siradjuddin Abbas, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Ibnu Sina mengkategorikan pecah tempurung kepala kepada pada beberapa nama dan tingkatan, di antarany; “sya ‘ ru al-azhmi,” “ ash-shad’u,” dan “al-kasr al-gha’ir.” Ia tidak hanya sebatas memperhatikan jenis penyakit pecah tempurungkepala dan gangguannya, melainkan juga menguasai cara pengobatannya.

  • Dalam mengobati penyakit dalam:

Ibnu Sina dapat membedakan antara mulas pada ginjal dan mulas pada lambung. Ia juga mampu membedakan antara peradagan paru-paru dengan peradanagn pada lapisan otak. Ia adalah orang yang pertama kali mendiagnosa secara akurat antara peradangan pada paru-paru dan pembekakan pada hati.

  • Dalam penyakit yang menjadi benalu (parasitc):

Ibnu Sina adalah orang yang pertama kali menemukan cacing Ancylostoma yang juga disebut cacing lingkar. Ini berarti bahwa Ibnu Sina telah mendahului dokter Itali dalam menemukan jenis cacing ini. Ibnu Sina juga mendeteksi adanya penyakit gajah (elephantiasis) yang disebabkan oleh cacing filaria dan bagaimana menjelaskan peneybarannya di tubuh.

  • Dalam kedokteran makanan dan penyakit perut:

Ibnu Sina menjelaskan tentang penyakit menular antrak (malignant anthrax) yang dalam bahasa Arab disebut “al-huma al-farisiyyah”, dan cara pengobatannya.

  • Dalam penyakit ginjal dan saluran kencing:

Ibnu Sina menjelaskan tentang gangguan akibat penumpukan zat kapur pada saluran kencing dan ia mampu membedakan antar batu pada saluran kencing ini dengan batu ginjal.

  • Dalam penyakit khusus wanita:

Ibnu Sina membicarakan tentang masalah kemandulan, menjelaskan tentang demam yang diakibatkan oleh nifas, abrosi (penguguran kehamilan), kanker yang berserabut, dan tertutupnya saluran pada alat kelamin wanita. Ibnu Sina telah mengetahui hal itu sejak dulu, sebelum manusia mengenal mikroskop.

  • Dalam penyakit syraf:

Ibnu Sina menjelaskan tentang sebagian keadaan yang terjadi pada orang yang mengidap penyakit saraf. Ia membedakan antara kelumpuhan saraf wajah yang disebabkan oleh pengaruh otak dan yang disebabkan oleh pengaruh anggota badan tersebut.

  • Dalam penyakit kejiwaan:

Ibnu Sina memiliki cara pengobatan yang baik dan efektif dalam menangani benturan kejiwaan yang diakibatakan oleh putus cinta.

karya filosofisnya yang terkemuka ialah kitab As-Syifa Al-Najar (penyelamat) dan (perintah-perintah). Kitab As-Syifa yang mengandung pengetahuan tak terhingga tentang logika, fisika,dan metafisika, mempunyai pengaruh luas terhadap filsafat Barat dan Timur.

Karya-karya Ibnu Sina yang terkenal ialah:

  1. Asy-Syifa. Buku ini adalah buku flsafat yang terpenting dan terbesar dari Ibnu Sina, dan terdiri dari empat bagian, yaitu: logika, fisika, matematika, dan filsafat (ketuhanan). Buku tersebut mempunyai beberapa naskah yang terbesar di berbagai-bagai perpustakaan di Barat dan Timur. Bagian ketuhanan dan fisika pernah di cetak dengan cetakan batu di Teheran. Pada tahun 1956 M lembaga keilmuan Cekoslovakia di Praha menerbitkan pasal keenam dari bagian fisika yang khusus menegani ilmu jiwa, dengan terjemhannya kedalam bahasa Prancis,di bawah asuhan Jean Pacuch. Bagian logika diterbitkan di Kairo pada tahun 1954 M, dengan nama Burhan, di bawah asuhan Dr. Abdurrahman Badawi
  2. An-Najat. Buku ini merupakan ringkasan buku as-Syifa, daan perna diterbitkan bersama-sama dengan buku alQanun dalam ilmu kedokteran pada tahun 1593 M di Roma dan pada tahun 1331 M di Mesir.
  3. Al-Isyarat wat-Tanbiat. Buku ini adalah buku terakhir dan yang paling baik, dan pernah diterbitkan di Leiden pada tahun 1892 M, dan sebaginya diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Kemudian diterbitkan di Kairo lagi pada tahun 1947di bawah asuhan Dr. Sulaiman Dunia.
  4. Al-Hikmat al-Masyriqiyyah. Buku ini banyak dibicarakjkan orang, karena memuat bagian logika. Ada yang mengatakan bahwa isi buku tersebut mengenai tasawuf, tetapi menurut Carlos Nallino, berisi filsafat Timur sebagian imbangan dari filsafat Barat.
  5. Al-Qanun, atau Canon of Medicine, menurut penyebutan orang-orang Barat. buku ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan pernah menjadi buku standar universitasuniversitas Eropa sampai akhir abad 17 M. buku tersebut pernah diterbitkan di Roma tahun 1593 M, dan di India tahun 1323 H. Risalah-risalah lain yang banyak jumlahnya dalam lapangan filsafat, etika, logika, dan psikologi.

Ibnu Abi Ushaiba‟ah dalam „Uyun al-Anba berkata, “Ibnu Sina memiliki buku-buku seperti yang kami temukan selain yang pernah disebutkan oleh Abi „Ubaid al-Jurzjani.” Ushaiba‟ah menuliskan daftar buku karya Ibnu Sina yang terdiri dari 102 risalah, tetapi hanya menyebutkan sampai rislah ke-92.

Adapun dalam tawarikh al-Hukama‟ karya Syamsuddin asySyik-rizuri, disebutkan daftar karya Ibnu Sina yang diberi nomor sebanyak 116 judul.

Related posts