Biografi Singkat Ibnu Khaldun : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

  • Whatsapp
Biografi Singkat Ibnu Khaldun : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran


Biografi Singkat Ibnu Khaldun | Profil Ibnu Khaldun | Pendidikan Ibnu Khaldun | Karya Ibnu Khaldun | Pemikiran Ibnu Khaldun | Wislahcom | Referensi |

Profil Ibnu Khaldun

Nama lengkap Ibnu Khaldun ialah Waliyuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman bin Khaldun. Nasab Ibnu Khaldun digolongkan kepada Muhammad bin Muhammad bin Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Khalid.

Beliau dikenal dengan nama Ibnu Khaldun karena dihubungkan dengan garis keturunan kakeknya yang kesembilan, yaitu Khalid bin Usman. Kakeknya ini merupakan orang pertama yang memasuki negeri Andalusia bersama para penakluk berkebangsaan Arab. Sesuai dengan kebiasaan orang-orang Andalusia dan Maghribi yang terbiasa menambahkan huruf wow (و) dan nun (ن) dibelakang nama-nama orang terkemuka sebagai penghormatan dan takzim, maka nama Khalid pun berubah kata menjadi Khaldun.



Banyak referensi yang berbeda-beda mengenai nama lengkap dari Ibnu Khaldun. Selain yang telah disebutkan diatas, pada kitab Muqaddimah terjemahan Masturi Irham, dan kawan-kawan. menyebutkan bahwa nama asli dan nama yang lebih dikenal untuk Ibnu Khaldun ialah Abdurrahman ibnu Khaldun al-Maghribi al-Hadrami al-Maliki. Abdurrahman ialah nama kecilnya digolongkan kepada al-Maghribi karena ia lahir dan dibesarkan di Maghrib kota Tunisia, dijuluki al-Hadrami karena keturunannya berasal dari Hadramaut Yaman Selatan, dan bergelar al-Maliki karena ia menganut mazhab Imam Malik.

Ibnu Khaldun dilahirkan di Tunisia, Afrika Utara, pada 1 Ramadhan 732 H/27 Mei 1332 M, dan wafat di Kairo pada 25 Ramadhan 808 H/19 Maret 1406 M. Beliau wafat dalam usianya yang ke-76 tahun (menurut perhitungan Hijriyah) di Kairo, sebuah desa yang terletak di Sungai Nil, sekitar kota Fusthath, tempat keberadaan madrasah al-Qamhiah dimana sang filsuf, guru, politisi ini berkhidmat. Sampai saat ini, rumah tempat kelahirannya yang terletak di jalan Turbah Bay, Tunisia, masih utuh serta digunakan menjadi pusat sekolah Idarah ‘Ulya.

Pada pintu masuk sekolah ini terpampang sebuah batu manner berukirkan nama dan tanggal kelahiran Ibnu Khaldun. Ayah Ibnu Khaldun bernama Abu Abdullah Muhammad, yang wafat pada tahun 749 H/1348 M akibat wabah pes yang melanda Afrika Utara dengan meninggalkan lima orang anak. Ketika itu Ibnu Khaldun masih berusia sekitar 18 tahun.



Ayahnya ini merupakan seorang yang ahli dalam bahasa dan sastra Arab. Setelah memutuskan untuk berhenti dalam menggeluti bidang politik, lalu beliau menekuni bidang ilmu pengetahuan dan kesufian serta mendalami ilmu-ilmu agama. Sehingga beliau pun dikenal sebagai orang yang mahir dalam sya’ir sufi dan berbagai bidang keilmuan lainnya. Pada awal abad ke-13 M, kerajaan Muwahhidun di Andalus hancur. Sebagian besar kota-kota dan pelabuhannya jatuh ke tangan raja Castilia termasuk kota Sevilla (1248 M).

Bani Khaldun terpaksa hijrah ke Afrika Utara mengikuti jejak Bani Hafs dan menetap di kota Ceuta, lalu mengangkat Abu Bakar Muhammad, yaitu kakek kedua Ibnu Khaldun untuk mengatur urusan negara mereka di Tunisia, dan mengangkat kakek pertama beliau yaitu Muhammad bin Abu Bakar untuk mengurus urusan Hijabah (kantor urusan kenegaraan) di Bougie. Karena Ibnu Khaldun lahir ditengah-tengah keluarga ilmuwan dan terhormat, maka beliau berhasil menghimpun antara jabatan ilmiah dan pemerintahan.

Di Andalusia, keluarga Ibnu Khaldun berkembang dan banyak berkecimpung dalam bidang politik dan akademik. Oleh karenanya, Bani Khaldun terkenal sebagai keluarga yang berpengetahuan luas, berpangkat, banyak menduduki jabatan-jabatan penting kenegaraan, serta memainkan peranan yang cukup menonjol, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun politik. Sehingga dunia politik dan ilmu pengetahuan telah begitu menyatu didalam diri Ibnu Khaldun. Ditambah lagi kecerdasannya juga sangat berperan bagi pengembangan karirnya.



Namun demikian, ayah Ibnu Khaldun ternyata memiliki keunikan tersendiri dari tradisi keluarganya tersebut. Beliau merupakan salah satu keluarga Bani Khaldun yang menjauhkan diri dari politik dan lebih berkonsentrasi pada bidang keilmuwan dan pengajaran seperti yang telah disebutkan diatas.

Pendidikan Ibnu Khaldun

Ibn Khaldun mengawali pendidikannya pada umur 18 tahun antara 1332 sampai 1350 M. Seperti halnya tradisi kaum muslim pada waktu itu, ayah Ibn Khaldun adalah guru pertamanya yang telah mendidiknya secara tradisional mengajarkan dasar-dasar agama Islam. Hal ini dapat dihami karena Muhammad ibn muhammad, ayah Ibn Khaldun adalah seorang yang berpengetahuan agama yang tinggi. Namun sangat disayangkan, pendidikan ibn Khaldun yang diterima dari ayahnya ini tidak dapat berlangsung lama, karena ayahnya meninggal dunia pada tahun 1349 M. Akibat terserang wabah The Black Dealth, seperti yang telah dijelaskan dimuka.Kematian ayahnya ini,selain merupakan suatu kesedihan bagi Ibn Khaldun, tapi juga membawa kesan tersendiri. Semenjak kematian ayahnya Ibn Khaldun mulai belajar hidup mandiri dan bertanggung jawab. Dari sinilah Ibn Khaldun mulai hidup sebagai manusia dewasa yang tidak menggantungkan diri kepada keluarganya.

Ibn Khaldun belajar dengan ayahnya, dengan cara membaca dan menghafal al-Quran. Dia fasih dalam qiraah sab’ah (tujuh cara membaca al-Quran). Dia memperlihatkan perhatiannya yang seimbang dan merata antara mata pelajaran Tafsir, Hadist, Fiqh, dan Gramatika bahasa Arab yang diambilnya dari sejumlah guru yang terkenal di Tunisia. Waktu itu Tunisa merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan dan sastra Arab. Kemudian secara khusus ia mendalami ilmu Hadis dan Fiqh Mazhab Maliki, di samping ilmu bahasa, sastra, mantik dan filsafat.

Sewaktu dia mencapai usia delapan belas tahun terjadilah dua peristiwa penting yang kemudian memaksa Ibn Khaldun berhenti menuntut ilmu. Pertama, karena berkecamuknya wabah kolera di banyak bagian dunia pada tahun 749 H, yang telah merenggut banyak korban jiwa, di antaranya ayah dan ibu Ibn Khaldun sendiri dan sebagian besar dari guru-guru yang pernah atau tengah mengajarnya. Kedua, setelah terjadinya malapetaka tersebut, banyak ilmuan dan budayawan yang selamat dari wabah itu pada tahun 750 H berbondong-bondong meninggalkan Tunisa pindah ke Afrika Barat Laut. Dengan terjadinya dua peristiwa itu berubahlah jalan hidup Ibn Khaldun. Dia terpaksa berhenti belajar dan mengalihkan perhatiannya pada upaya mendapatkan tempat dalam pemerintahan dan peran dalam percaturan politik di wilayah itu.

Seperti telah dijelaskan, bahwa Ibnu Khaldun lahir dan dibesarkan ditengah-tengah keluarga ilmuwan yang terhormat. Ayahnya Abu Abdullah Muhammad adalah gurunya yang pertama. Darinya, ia belajar membaca, menulis dan bahasa Arab. Di antara guru-gurunya yang lain adalah Abu ‘Abdullah Muhammad ibnu Sa’ad bin Burral Al-Ansari, darinya ia belajar Al-Qur’an dan Qira’at. Selanjutnya Al-Hasayiri, Muhammad Al-Syawwasy Al-Zarzali, Ahmad ibnu Al-Qassar dari mereka Ibnu Khaldun belajar bahasa Arab. Di samping nama-nama di atas Ibnu Khaldun menyebut sejumlah ulama, seperti Syaikh Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad Al-Wadiyasyi, darinya ia belajar ilmu-ilmu hadits, bahasa Arab, fikih.

Pada Abdullah Muhammad ibnu Abdussalam ia mempelajari kitab Al-Muwatta’ karya Imam Malik. Di antara guru-gurunya yang terkenal dan ikut serta membentuk kepribadian Ibnu Khaldun, Muhammad ibnu Sulaiman Al-Satti ‘Abd Al-Muhaimin Al-Hadrami, Muhammad ibnu Ibrahim Al-Abili. Darinya ia belajar ilmu-ilmu pasti, logika dan seluruh ilmu (teknik) kebijakan dan pengajaran di samping dua ilmu pokok (Qur’an dan Hadits). Namun demikian, Ibnu Khaldun meletakkan dua orang dari sejumlah gurugurunya pada tempat yang istimewa, keduanya sangat berpengaruh terhadap pengetahuan bahasa, filsafat dan hukum Islam, yaitu Syaikh Muhammad ibnu Ibrahim Al-Abili dalam ilmu-ilmu filsafat dan Syaikh ‘Abd Al-Muhaimin ibnu Al-Hadrami dalam ilmu-ilmu agama. Darinya Ibnu Khaldun mempelajari kitabkitab hadits, seperti Al-Kutub Al-Sittah dan Al-Muwatta’.

Pada usia 20 tahun, Ibnu Khaldun berhasil menamatkan pelajarannya dan memperoleh berbagai ijazah mengajar dari sebagian besar gurunya setelah ia menimba ilmu dari mereka.

Karya Ibnu Khaldun

Ibn Khaldun adalah seorang aktivis dan pemikir politik yang lahir di Tunis tahun 1332 dan meninggal di Mesir tahun 1406. Ia menghabiskan hampir seluruh umurnya dalam pertarungan dan petualangan politik dalam berbagai bentuknya pada kurun waktu dan di bagian dunia di mana ia hidup. Wilayah yang di jelajahinya terbentang mulai dari kota Sevilla di Spanyol sampai kekota Damaskus di Suriah, terutama Afrika Utara bagian Barat, pada penggal pertama dari kehidupannya, dan kemudian di Mesir pada bagian terakhir kehidupannya sampai ia meninggal dunia. Selain sebagai seorang aktivis politik, ia juga seorang pemikir dan pengamat ilmu pengetahuan yang memiliki analisis yang amat tajam.

Ia menuliskan pengamatannya itu dalam sebuah buku yang terdiri dari jilid tentang sejarah, sebuah buku yang di namakannya “Ibar” yaitu buku suri teladan yang dapat diambil manusia dari sejarah. Bagian pertama dari buku itu dinamakannya “Muqaddimah”, yang artinya “Pendahuluan”. Dalam perkembangan selanjutnya, baik diwaktu penulisannya yang masih hidup maupun di masa-masa terakhir ini, buku Muqaddimah inilah yang merupakan sebuah karya yang telah menjadikan nama penulisnya kekal dalam sejarah.

Meskipun Ibn Khaldun hidup pada masa dimana peradaban Islam mulai mengalami kehancuran, namun Ibn Khaldun mampu tampil sebagai pemikir Muslim yang kreatif dan melahirkan pemikirpemikir besar melalui karya-karyanya. Pemikir-pemikirnya yang dituangkan dalam beberapa karyanya hampir seluruhnya bersifat original.

Berikut ini akan dikemukakan beberapa karyanya yang cukup terkenal yaitu :

  • Kitab Al-Ibar wa Diwan Al-Mubtada wa Al-Khabar fi, Ayyam Al-Arab wa al-Ajam wa Al-Barbar, wa Man Asharahum min Dzawi AlSulthan Al-Akbar. Karya yang dilihat dari judulnya mempunyai gaya yang tinggi, namun dapat diterjemahkan menjadi “Kitab contoh-contoh dan rekaman tentang Asal-usul dan peristiwa hari-hari Arab, Persia, Barbar dan orang-orang sezaman dengan mereka yang memiliki kekuatan besar. Oleh karena judulnya terlalu panjang, maka orang sering menyebutnya dengan Kitab al-Ibar saja. Atau kadang cukup dengan sebutan Tarikh Ibn Khaldun. Kitab al-Ibar atau Tarikh Ibn Khaldun seperti yang dituturkan penulisnya disusun dengan sistematika sebagai berikut :
    • Pendahuluan (al-Muqaddimah) yang membahas tentang manfaat histeografi, bentuk-bentuk histeografi dan beberapa kesalahan para sejarawan.
    • Buku pertama yang berisi tentang peradaban (umran) dan berbagai karakteristiknya, seperti kekuasan, pemerintahan, mata pencaharian, penghidupan, keahlian-keahlian dan ilmu pengetahuan.
    • Buku kedua yang mencangkup uraian tentang sejarah bangsa Arab dan bangsa-bangsa yang sezaman dengannya, seperti bangsa Nabi, Suryani, Persia,Israel, Qibti, Yunani, Romawi, Turki dan Franka.
    • Buku ketiga menguraikan sejarah bangsa Zanatah, khususnya kerajaan dan Negara-negara di Afrika Utara (Maghribi).

Kata Ibar yang merupakan jamak dari Ibrah adalah kata kunci yang secara tidak langsung memuat beberapa isyarat dan petunjuk tentang teori sejarah Ibn Khaldun.Ibrah yang berarti pelajaran moral yang berguna bertalian erat dengan usaha penyelidikan ilmuan atau filosofis tentang peristiwa historis.Ibrah tidak saja menjadi penghubung antara sejarah dan hikmah (filsafat), tapi juga merupakan proses perenungan sejarah dengan tujuan untuk memahaminya agar dapat dijadikan pedoman untuk bertindak.

  • Kitab Muqaddimah Ibn Khaldun Kitab Al-Ibar atau disebut juga Tarikh Ibn Khaldun dengan sistematika sebagaimana yang telah dikemukakan diatas yang ditulis Ibn Khaldun dalam tujuh jilid. Pendahuluan dan buku pertama dari Kitab al-Ibar tertuang dalam jilid pertama. Buku kedua yang berisi tentang sejarah Arab dan bangsa-bangsa yang sezaman dengannya dimuat dalam empat jilid, yaitu jilid kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Adapun buku ketiga yang merupakan tujuan utama disusunnya kitab al-Ibar, yaitu pembahasan tentang sejarah Maghribi, ditulis dalam jilid keenam dan ketujuh. Jilid pertama kitab al-Ibar inilah yang kemudian terkenal dengan Muqaddimah Ibn Khaldun atau al-Muqaddimah.

Kitab Al-Ibar, kemudian lebih dikenal dengan Muqaddimah Ibn Khaldun, ditulisnya pada usia 40 tahun. Disusunnya berdasarkan kesimpulan dari pengalaman terhadap masalah-masalah sosial pada umumnya. Karya Muqaddimah, selesai ditulis pada tahun 779 H, dia menyelesaikan penulisannya hanya dengan waktu 5 bulan saja.

Kitab Muqaddimah merupakan buku pertama dari Kitab AlIbar, yang terdiri dari bagian Muqaddimah (pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku tersebut pulalah yang mengangkat nama Ibn Khaldun menjadi begitu harum. Adapun tema Muqaddimah ini adalah gejala-gejala sosial dan sejarahnya.

Ibn Khaldun menghimpun aliran sosiologi dalam karyanya Muqaddimah. Pikiran-pikiran Ibn Khaldun sangat luas cakrawalanya. Dia memahami masyarakat dalam segala totalitasnya, dia menunjukkan segala fenomena untuk bahan studinya. Dia mencoba untuk memahami gejala-gejala itu dan menjelaskan hubungan kausalitas (sebab akibat) di bawah sorotan sinar sejarah. Dia menjelaskan peristiwa-peristiwa dan kaitannya dalam suatu kaidah sosial yang umum. Keunggulan Muqaddimah ditemukan diantaranya yaitu :

Pertama, sebagai Falsafah Sejarah. Penemuan ini telah memberikan pengertian tentang pemahaman yang baru tentang sejarah, yaitu bahwa sejarah itu adalah ilmu tentang fakta-fakta dan sebab-sebabnya peristiwa-peristiwa yang pernah dialami oleh negara tersebut.

Kedua, metodologi sejarah. Ibn Khaldun melihat bahwa kriteria logika tidak sejalan dengan watak benda-benda empirik, oleh karenanya butuh penelitian. Prinsip ini merangsang para sejarawan untuk mengorientasikan pemikirannya kepada eksperimen-eksperimen dan tidak menganggap cukup eksperimen yang sifatnya individual, tetapi mereka hendaknya mengambil sejumlah eksperimen. Dia meletakkan kaidah-kaidah studi sejarah, yaitu antara peristiwa lain dalam hubungan kualitas masyarakat dengan membanding-bandingkan, kesamaan atau membedakan keadaan-keadaan kini dan masa lampau.

Ketiga, dialah pengasas ilmu peradaban atau filsafat sosial. Pokok bahasannya ialah kesejahteraan masyarakat manusia dan kesejahteraan sosial. Ibn Khaldun memandang ilmu peradaban, perdefinisi, ilmu baru, luar biasa dan banyak faedahnya. Ilmu baru ini, yang diciptakan oleh Ibn Khaldun memiliki arti yang besar. Menurut pendapatnya ilmu ini adalah kaidah-kaidah untuk memisahkan yang benar dari yang salah dalam penyajian fakta, menunjukkan yang mungkin dan yang mustahil. Untuk itu hendaklah kita melihat kedalam masyarakat manusia yang beradab dan hendaklah kita membedakan apa yang menjadi pelengkap dari inti yang pokok sesuai dengan wataknya dan yang menjadi sifat yang tidak masuk bilangan dan apa yang mungkin untuk dikemukakan. Jika semua itu dilakukan maka dia menjadi kaidah untuk membedakan yang benar dari kenyataan dan antara yang benar dari benar yang bohong dengan jalan yakin yang tidak diragukan lagi.

  • Kitab Al-Ta’rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatuh Garban wa Syarqan Karya ini dipandang sebagai sebuah otobiografi Ibn Khaldun. Dengan karya ini tidak akan mendapat kesulitan untuk menulis biografi Ibn Khaldun secara lengkap. Karya ini telah membuat Ibn Khaldun dipandang sebagai “orang besar” abad pertengahan yang paling sempurna meninggalkan riwayat hidupnya. Otobiografi Ibn Khaldun atau biasa di sebut dengan al-Ta’rif berisi catatan riwayat hidup Ibn Khaldun sejak masa mudanya sampai akhir hidupnya. Pada awalnya memang al-Tarif ditulis Ibn Khaldun sampai tahun 1395 M.

Sebagai lampiran kitab al-Ibar, tetapi kemudian disempurnakan isinya dengan berbagai peristiwa yang dialami beliau sampai tahun 1405 M. Satu tahun sebelum kematiannya. oleh karena itu, otobiografi ini memuat hampir semua peristiwa yang dialami Ibn Khaldun selama hidupnya.

Di dalam al-Tarif, Ibn Khaldun tidak hanya meriwayatkan kehidupan pribadinya, tetapi juga meriwayatkan kehidupan orang-orang penting yang erat hubungannya dengan riwayat hidupnya. Selain itu, al-Tarif juga dilengkapi dengan peristiwa-peristiwa, dokumendokumen, surat-surat yang pernah dirangkai oleh Ibn Khaldun. 25 Karya tulis Ibn Khaldun yang lain adalah Al-Ta’rif, ini yang semula merupakan lampiran dari al-Ibar tetapi kemudian waktu dia tinggal di Kairo ditambah dan disempurnakan untuk dijadikan buku tersendiri.

Seperti yang telah dikemukakan terdahulu, Muqaddimah atau jilid pertama dari Al-Ibar itu diselesaikan penulisya oleh Ibn Khaldun dalam waktu lima bulan, ketika dia dan keluarga tinggal di tengah-tengah Bani Arif, dan baru kemudian diteruskan penulisan jilid-jilid berikutnya. Tetapi oleh karena bahan rujukan tidak cukup tersedia untuk menyelesaikan penulisan itu, dia terpaksa kembali ke Tunisia yang memiliki perpustakaan yang lengkap. Naskah bersih Muqaddimah ditulis untuk pertama kalinya di Tunisia, dan satu diantara naskah tersebut, bersama dengan jilid-jilid lain dari Al-Ibar di persembahkan kepada Sultan Tunisia, Abu Abbas. Setelah Ibn Khaldun berada di Kairo buku itu ditambah dan disempurnakan.Kemudian disiapkan dua naskah, satu naskah dipersembahkan kepada Sultan Mesir, Dzahir Barquq dan satu lagi kepada Sultan Abu Faris Abdul Aziz di Fez.

Selain karya-karya yang telah disebutkan di atas, Ibn Khaldun sebenarnya memiliki karya-karya lain yang tidak kalah pentingnya. Menurut Ibn al-Khathib, Ibn Khaldun telah menulis sebuah komentar tentang Burdah karya al-Bashairi, membuat outline tentang logika dan aritmetika, beberapa resume tentang karya-karya Ibn Rusyd dan sebuah komentar tentang ushul Fiqh karya Ibn al-Khathib sendiri. Akan tetapi, karya-karya tersebut kini tidak dapat dilacak keberadaannya.

Kemungkinan besar karya-karya itu ditulis Ibn Khaldun sebelum menyusun Kitab al-Ibar, al-Muqaddimah dan Al-Tarif, karena Ibn AlKhathib bertemu dengan Ibn Khaldun ketika berada di Granada. Sementra itu, masih ada dua karya Ibn Khaldun yang masih sempat dilestarikan, yaitu sebuah Ikhtisar atas karya Fakhruddin alRazi yang berjudul al-Muhashshal.Ikhtisar yang di tulis Ibn Khaldun dengan tangannya sendiri ini diberi judul Lubab al-Muhashshal Fi Ushul al-Din. Menurut Lakhsassi, Ikhtisar ini merupakan karya pertama Ibn Khaldun, karena ditulisnya pada usia 19 tahun sewaktu ia berada di Tunis. Karya satunya lagi adalah Syifa al-Sail Fi Tahdzib al-Masa’il yang ditulis Ibn Khaldun ketika berada di Fez. Kedua karya ini dianggap oleh Majid Fakhry sebagai karya-karya besar Ibn Khaldun.

Pemikiran Ibnu Khaldun

  • Al-Umrân ; Membangun Paradigma Peradaban Masyarakat

Ibnu Khaldun menyatakan bahwa ilmu ini merupakan kumpulan dari segala ilmu pengetahuan, termasuk di antaranya ilmu sosiologi. Al-Umrân mempunyai makna luas, meliputi seluruh aspek aktifitas kemanusiaan, di antaranya frame geografi peradaban, perekonomian, sosial, politik, dan ilmu pengetahuan.

Maksud dari al-umrân dalam kerangka pemikiran Ibnu Khaldun adalah ilmu metodologi umum yang membahas tentang dasar-dasar peradaban, dan dengannya, tercapai puncak peradaban bumi.

Secara natural, menurut Ibn Khaldun, manusia membutuhkan interaksi dalam menumbuhkan peradaban, karena menurutnya manusia secara tabiat adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, manusia harus berkumpul, karena hal ini merupakan karakteristik kesosialannya. Hal seperti ini mengandung makna esensial dari sebuah peradaban. Pertemuan sangat urgen bagi kehidupan manusia. Tanpa pertemuan, keberadaannya tidak sempurna. Tuhan berkeinginan memakmurkan bumi ini oleh mereka semua dan memberikan khilafahnya hanyalah kepada mereka.

Ibn Khaldun terkenal dengan teorinya, “tingkat keberadaan kekayaan” bisa menentukan kelas sosial. Dalam hal ini, ia berkata; kemudian kekayaan itu terbagi-bagi di masyarakat, dan membentuk tingkat kedudukan sosialnya. Kelas paling tinggi adalah kedudukan raja, tidak ada yang tinggi lagi yang bisa memberikan sesuatu kepada manusia lainnya. Sedangkan kelas bawahan adalah dari orang yang tidak mempunyai apa-apa di kalangan yang sejenisnya, serta di antara kalangan yang berbedabeda kelasnya. Kemudian ia menghubungkan sifat kebaikan dengan kefakiran.

Menurutnya bahwa kita banyak menemukan dari orangorang yang selalu berbuat senang-senang dengan kemewahan dan kemuliaan, tetapi tidak mencapai pada tingkat kebahagiaan, melainkan mereka mencari-cari lahan kehidupan pada pekerjaannya, sehingga mereka pun menjadi fakir dan miskin.

  • Peletak Dasar Sosiologi

Ibnu Khaldun bukan hanya seorang filosuf, melainkan juga sosiolog, politikus dan ahli sejarah. Sosiologi menurutnya merupakan sarana untuk memahami sejarah dan kondisi sosial masyarakat pada suatu generasi, proses perubahan dalam suatu masyarakat, faktor dan pengaruhnya dalam peta peradaban suatu bangsa.

Dalam konteks sosiologi, Ibnu Khaldun membagi masyarakat menjadi tiga tingkatan: pertama, masyarakat primitif (wahsy), dimana mereka belum mengenal peradaban, hidup berpindah-pindah dan hidup secara liar. Kedua, masyarakat pedesaan, hidup menetap walaupun masih sederhana. Mata pencaharian mereka dari pertanian dan peternakan. Dalam kelas ekonomi mereka dibagi menjadi tiga, yaitu: petani, penggembala sapi dan kambing serta penggembala unta. Sedangkan yang ketiga, masyarakat kota. Masyarakat ini menurutnya sebagai masyarakat berperadaban, di mana mata pencahariannya dari perdagangan dan perindustrian. Tingkat ekonomi dan kebudayaan cukup tinggi, mampu mencukupi kebutuhannya bukan hanya kebutuhan pokok, melainkan juga kebutuhan sekunder dan mewah.

Ibn Khaldun menyebutkan moral badui dan berperadaban terbagi ke dalam dua macam; datang secara alami dan muncul dengan direkayasa. Menurutnya, masyarakat badui lebih memiliki sifat pemberani ketimbang kalangan masyarakat kota. Sebab utamanya, masyarakat kota banyak menikmati ketenangan, beristirahat, tenggelam dalam kenikmatan dan bermewahmewahan. Generasi demi generasi telah lahir dari kedua orang tuanya, baik lelaki atau wanita. Anak lelaki mengikuti kebiasaan bapaknya, sedangkan yang wanita mengikuti ibunya. Sementara masyarakat badui kurang mengadakan perkumpulan dalam sebuah komunitas, mereka melakukan pertahanan terhadap diri mereka sendiri, tidak mengandalkan orang lain, dan condong menggunakan senjata. Ibn Khaldun menganalisa juga tentang “pengaruh iklim terhadap moral manusia.”

Wilayah yang diduduki oleh orangorang dengan udara panas seperti Sudan dan negara Arab, biasanya mereka kurang berhati-hati dan banyak bergembira. Begitu juga dengan masyarakat yang berasal dari teluk. Sedangkan penduduk yang wilayahnya kering biasanya mereka mempunyai tabiat selalu merasakan kesedihan. Sebab utamanya, kemungkinan masih menurut pandangannya karena mereka tinggal di wilayah dan daerah yang iklimnya bisa mempengaruhi moral mereka.

Ketika menganalisa struktur masyarakat, ia membaginya dalam tiga format, yaitu: bangsa Arab, Barbar dan ‘Ajam. Dari tiga struktur tersebut, ia menempatkan bangsa Arab pada masyarakat pedesaan yang primitif, karena mereka hidup sebagai penggembala unta yang harus berpindah-pindah. Maksud Arab ini konotasinya lebih dekat ke pemaknaan badui. Mereka terbiasa mempertahankan diri dari musuh dan tantangan yang setiap saat menghantui. Begitu juga dengan alam yang tidak bersahabat. Mereka tidak pernah melepaskan senjatanya, karena setiap saat bahaya akan mengancam.

Dengan pengalaman ini, bangsa Arab menurut Ibnu Khaldun mampu merebut kekuasaan dari pihak lain dengan ‘ashabiyahnya. Namun, kekuasaan ini cepat lepas karena kondisi mereka yang berpindah-pindah. Padahal, kekuasaan itu bisa dipertahankan melalui dukungan solidaritas dari golongannya yang terus membantu dan membelanya dalam setiap waktu. Hal ini sulit diperoleh karena setiap waktu, sebagai penggembala, mereka dituntut untuk berkelana.

Kondisi di atas, menurut Ibnu Khaldun semakin lama mengalami pergeseran, dengan bergantinya waktu. Struktur masyarakat Arab juga mengalami perubahan berdasarkan perubahan orientasi dan sosiologi, sebagaimana yang dianalisa oleh Mahmûd Isma’il, dalam bukunya Sosiologiy al-Fikr al-Islâmy. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat, bukanlah merupakan pengaruh dari luar, melainkan merupakan reaksi yang timbul dalam intern masyarakat yang menjadi tabiatnya.

Menurutnya, akar sosiologi Arab dapat ditelusuri dari tiga fase dan struktur sosial yang merupakan bentangan sejarah Arab klasik, sebelum masa kenabian. Ketiga struktur ini nantinya akan mempengaruhi wacana pemikiran sesudahnya.

Pertama, struktur rohaniawan. Kelompok ini hidup dan berkembang di daerah gurun. Mereka sangat fasih melantunkan syair-syair Arab.

Kedua, struktur feodalisme yang dimulai sejak 1300-527 SM. Dari tinjauan sejarah, struktur ini merupakan generasi pertama yang telah mengalami perubahan. Perubahan dari rohaniawan ke feodalisme ditandai dengan tumbuhnya solidaritas Arab, seperti negeri Qitban, Muayan, Saba’ dan negeri Hamir. Namun pengaruh dari perubahan ini menjadikan negeri-negeri yang pada mulanya bekerja sama dalam hal pengairan, selanjutnya berangsur menjadi kekerasan. Kelompok yang kuat menindas yang lemah, yang kaya memeras yang miskin dan sejak saat itulah mereka terbagi dalam kasta. Tanah-tanah pertanian dibagikan kepada para pemimpin sektor/wilayah.

Ketiga, struktur borjuisme. Di antara indikasi yang dipandang representatif untuk menggambarkan kehidupan kaum borjuis Arab saat itu, antara lain, lukisan yang tertera pada mata uang. Lukisan tersebut meliputi nama-nama raja, kota dan lambang kebesaran.

Menurut para sosiolog, lukisan namanama raja menunjukkan bahwa masyarakat Arab pra-kenabian dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu: kelompok yang berpegang pada agama, tetapi cenderung berperilaku sekuler dan kelompok yang cenderung sekuler an sich. Contoh formulasi yang kedua ini adalah negeri Saba’. Sebelum Islam datang, Arab merupakan komunitas badui yang terbelakang dan tidak diperhitungkan dalam peradaban dunia. Sikap kebinatangan mengalahkan prinsip humanisme, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin. Sehingga persaudaraan berubah menjadi permusuhan.

Tamaddun dalam kontek dunia Arab, jelas mempunyai korelasi yang erat dengan datangnya Islam yang memberikan jiwa bagi lahirnya peradaban. Pasca kenabian, ideologi menjadi mainstream dan tatanan baru yang menyikapi seluruh aspek duniawi. Pada saat itu, secara sosio-historis Nabi Muhammad merupakan pemegang risalah sekaligus penggerak peradaban umat Islam. Amanat ini diteruskan oleh Khalîfah yang berjalan secara estafet.

  • Tradisi Hermeneutika dalam Pemikiran Ibnu Khaldun

Tradisi ini dirintis oleh Ibnu Khaldun, yang kemudian dikembangkan oleh generasi sesudahnya, termasuk di antaranya Arkaun dan Nashr Hamid Abu Zaid. Dalam wacana hermeneutika, sebuah tradisi akan mati, kering dan mandeg jika tidak dihidupkan secara terus-menerus melalui penafsiran ulang sejalan dengan dinamika sosial.

Sebagai seorang sosiolog yang juga pemerhati sejarah, Ibnu Khaldun menganjurkan untuk memahami sejarah, sebagai substansi dan kondisi pelaku sejarah tersebut. Hermeneutika terdiri dari tiga elemen pokok, yaitu: pengarang, teks dan pembaca. Ketiganya mempunyai dunia tersendiri, sehingga harus terjalin hubungan yang dinamis, dialogis dan terbuka. Ada interaksi yang saling terkait antara ketiganya.

Di satu sisi seorang pembaca ketika berhadapan dengan teks, hasil yang ia peroleh tergantung pada keberaniannya mengenali arti dan muatan teks. Sedangkan di sisi lain, pembaca dituntut untuk mengenali lebih jauh terhadap pribadi pengarang sehingga mampu menangkap aspirasi yang ada dalam nurani pengarang secara keseluruhan. Sering pembaca menarik benang merah yang tidak sesuai dengan pesan pengarang, karena kurang memahami maksud pengarang. Sedangkan dalam filsafat sejarah Ibnu Khaldun, struktur ini terdiri: pelaku sejarah, substansi sejarah dan pembaca sejarah. Seorang pembaca sejarah harus menguasai kaidah dalam periwayatan sejarah, karakteristik pelaku sejarah, tabiat yang ada, problematika perpecahan umat dan sebagainya.

Hal ini agar sejarah yang dibacanya dapat dipahami secara utuh dan terhindar dari keterputusan mata rantai generasi. Ketiganya harus saling berkaitan dan tidak mungkin meninggalkan salah satunya. Menurutnya, seorang ahli sejarah ketika menerima riwayat atau memaparkan suatu peristiwa harus memahami fenomena dan kondisi sosial masyarakat pada waktu itu. Sebab, sejarah pada masa lalu tidak mungkin terulang, demikian halnya dengan prestasi-prestasi sejarah yang terjadi. Kalaupun seseorang ingin memahami substansi sejarah, berarti harus menafsirkan sejarah berikut kondisi sosial yang ada. Sejarah menurutnya terdiri dari dua unsur, yaitu: pertama, unsur keabsahan riwayat (tarikh dzahir) dan kedua, unsur sosiologis (tarikh batin).

Related posts