Biografi Singkat Hasan Al-Basri : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

  • Whatsapp
Biografi Singkat Hasan Al-Basri : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran


Biografi Hasan Al-Basri | Biografi Singkat Hasan Al-Basri | Profil Hasan Al-Basri | Pendidikan Hasan Al-Basri | Karya Hasan Al-Basri | Pemikiran Hasan Al-Basri | Wislahcom | Referensi |

Profil Biografi Hasan Al–Basri

Hasan Al Bashri yang nama lengkapnya Abu Sa’id Al Hasan bin Yasar adalah seorang zahid yang amat masyhur di kalangan tabi’in. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H (632 M). Ia dilahirkan dua malam sebelum Khalifah Umar bin Khattab wafat. Ia dikabarkan bertemu dengan 70 orang sahabat yang turut menyaksikan peperangan Badr dan 300 sahabat lainnya.

Beliau lahir dari ibu yang bernama Khairah, seorang hamba sahaya milik Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad Saw. Ayahnya bernama Yasar, keturunan Persi beragama Nasrani, ayahnya adalah seorang budak yang ditangkap di Maisan, yang di kemudian hari dimerdekakan oleh Zaid bin Tsabit, sekretaris Rasulullah Saw. yang sekaligus juru tulis wahyu. Karena itulah, Yasar biasa dipanggil Yasar Maula Zaid bin Tsabit. Kelahiran Hasan al-Bashri membawa keberuntungan bagi kedua orang tuanya karena kedua orang tuanya terbebas dari status hamba sahaya menjadi merdeka.



Hasan al Bashri tumbuh di kalangan orang-orang yang shaleh, yang memiliki pengetahuan agama yang mendalam, yaitu di keluarga Nabi. Dia melanjutkan pendidikannya di Hijaz. Dia berguru pada ulama-ulama di sana sehingga memiliki ilmu agama yang kepandaiannya diakui oleh para sahabat. Dialah yang mulanya menyediakan waktunya untuk memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlak, dan usaha menyucikan jiwa di Masjid Bashrah. Ajaran-ajarannya tentang kerohanian senantiasa didasarkan pada sunnah Nabi. Sahabat-sahabat Nabi yang hidup pada zaman itu pun mengakui kebesarannya. Bahkan, ketika ada orang yang datang kepada Anas bin Malik untuk menanyakan persoalan agama, Anas memerintahkan orang itu agar menghubungi Hasan. Mengenai kelebihan lain Hasan, Abu Qatadah pernah berkata, “Bergurulah kepada syekh ini. Saya sudah saksikan sendiri (keistimewaannya). Tidak ada seorang tabi’in pun yang menyerupai sahabat Nabi selainnya.”

Setelah melalui kehidupan yang dipenuhi untaian kalimat lembut dan indah, juga berbagai nasihat yang baik sepanjang zaman, pada malam Jum’at awal bulan Rajab Tahun 110 Hijriah, Hasan Al Bashri memenuhi panggilan Rabb-nya. Pada pagi hari, tersebarlah berita wafatnya di tengah orang-orang sehingga Bashrah bersedih karena kematiannya. Hasan wafat pada usia lanjut 86 tahun dan dimakamkan di Bashrah. Salat jenazahnya tidak bisa dilaksanakan di masjid karena sebagian besar masyarakat Bashrah datang untuk memberi penghormatan kepada salah satu cendekiawan dan reformis paling berpengaruh pada dunia muslim.

Pendidikan Hasan Al basri

Pendidikan awal al-Hasan al-Basri diperolehnya dari lingkungan keluarganya sendiri. Ibunya adalah gurunya yang pertama.



saat usianya 14 tahun hasan bersama keluarganya pindah ke kota Basrah, irak. Semenjak  itulah ia dikenal dengan nama Hasan Basri, yaitu Hasan yang bertempat tinggal dikota Basrah. dikala itu basrah merupakan kota keilmuan yang pesat peradabannya, sehingga para Tabi’in yang singgah kesana untuk  memperdalam keilmuannya.

Di basrah ia sangat aktif untuk mengikuti perkuliahannya, ia banyak belajar kepada ibnu abbas, dari ibnu abbas ia memperdalam ilmu tafsir, ilmu hadist dan qira’at. Sedangkan ilmu fiqh, bahasa dan sastra didapatkan dari sahabat yang lain.

 Kehidupan keluarganya di Madinah, yang berlangsung selama lebih kurang 16 tahun sejak kelahiran al-Hasan al-Basri sampai dengan perpindahan keluarganya ke Basrah, memberi warna tersendiri bagi perkembangan pengetahuannya. Ibunya banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan al-Hasan al- Basri. Berkat pendidikan dan pembinaan dari ibunya, maka pada usia 14 tahun Hasan sudah menghafal al-Qur’an. Sejak usia dini seperti ini, ia juga telah banyak mendengar riwayat (hadis) dari ibunya. Pergaulannya dengan para sahabat Nabi Saw membuat cakrawala pengetahuan agamanya, terutama hadis, bertambah luas.



Al-Hasan al-Basri menerima banyak hadis dari para sahabat dan para tabiin. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa al-Hasan masih sempat bertemu dengan Ali ibn Abi Thalib, Talhah ibn Ubaidillah, dan Aisyah binti Abu Bakar. Ia menerima hadis riwayat beberapa sahabat dan perawi hadis lainnya, seperti Ubay ibn Ka’ab (w. 19 H), Sa’id ibn Ubadah, Umar ibn Khattab, Ammar ibn Yasir, Abu Hurairah, Usman ibn Affan, Abdullah ibn Umar, Hamid at-Tawil, Yazid ibn Abi Maryam, dan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan.

Hasan Bashri dikenal sebagai seorang alim, yang sangat mendalam ilmunya dalam fiqih dan kalam. Sebagaimana yang sudah disebutkan diatas, ‘Amr ibn ‘Ubaid dan Washil ibn Atha, keduanya tokoh kalam aliran Mu’tazilah, adalah muridnya. Hasan al-Bashri juga dikenal sebagai ahli pidato yang sangat cemerlang. Dalam khutbah-khutbahnya ia menyeru manusia agar berhati-hati terhadap tipu daya kehidupan dunia. Salah satu nasehatnya, “Juallah duniamu dengan akhiratmu maka engkau akan mendapat keduanya. Janganlah engkau jual duniamu dengan akhiratmu, maka engkau akan kehilangan keduanya. Hati-hatilah terhadap tipu daya dunia. Dunia itu seperti ular, lembut kulitnya, akan tetapi racunnya mematikan.” Dia dihormati sebagai seorang ‘alim dan wali pada masa permulaan Islam. Hasan al-Bashri mendirikan majlis dzikir di Bashrah di mana berkumpul murid-murid dan pengikut-pengikutnya.

Karya Hasan Al-Basri     

Hasan Basri, seorang komunikator Islam yang handal dikenal zahid pertama dan termasyur dalam sejarah tasawuf. Dia lahir di Madinah pada tahun 642 M, dan meninggal di Basrah pada tahun 728 M. Hasan Basri tampil pertama dengan membawa ajaran khauf dan raja’, mempertebal takut dan harap kepada Tuhan.

Peninggalan terbesar yang diwariskan Hasan Bashri kepada umat Islam adalah untaian pesan-pesan komunikasi yang sepanjang zaman menjadi penyejuk hati, menggetarkan jiwa, dan mampu meneteskan air mata, bagi orang-orang yang mendengarkan penyampaian komunikasi Islam yang dikemukakan Hasan Basri. Penyampaian komunikasi Islam Hasan Bashri menggabungkan antara kekuatan retorika dan kejernihan pesan, yang merupakan ciri khas pembicaraan pada masa Sahabat Rasulullah Saw.

Pesan verbal komunikasi Islam yang disampaikan Hasan Basri seputar singkatnya kehidupan di dunia, kekalnya akhirat, anjuran beriman, beramal shaleh, bertakwa kepada Allah Swt, membersihkan jiwa dari angan-angan yang tidak berguna. Sedangkan, tema-tema penting pembahasan yang sering disampaikan Hasan Basri di antaranya, ajakan kepada zuhud. Hasan Bashri terus bergerak mengajak orang-orang kepada zuhud, dan ketakwaan, bisa disebut bahwa ia merupakan orang pertama yang meletakkan prinsip-prinsip dasar zuhud, metode muhasabah diri, serta mengangkat posisi khauf dan raja’ (harap dan cemas). Beliau sering berkata, “Sesungguhnya harap dan cemas merupakan tiang pokok penyanggah bagi seorang mukmin, dengan catatan bahwa cemas baginya lebih kuat dari harap, karena jika harap lebih dominan dari cemas, akan mengakibatkan rusahknya hati.” Selanjutnya, Hasan Basri juga menitik beratkan pentingnya melakukan suatu kebaikan dimulai dari sendiri sebelum menganjurkan orang lain melakukannya.

Pemikiran Hasan Al-Basri

Abdul Mun’im al-Hifni, seorang ahli tasawuf Kairo, memasukkan Hasan Basri dalam kelompok sufi besar. Dia mengatakan bahwa Hasan Basri adalah seorang zahid yang wara’ dan komunikator yang nasihatnya menyejukkan hati dan kalimatnya menyentuh akal rasional. Terkait dengan tasawuf, Hasan Basri berkata, “Barangsiapa yang memakai tasawuf karena tawaduk (kepatuhan) kepada Allah akan ditambah Allah cahaya dalam diri dan hatinya, dan barangsiapa yang memakai tasawuf karena kesombongan kepada-Nya akan dicampakkan-Nya ke dalam neraka.”

Kedalaman pengetahuan Hasan Basri mengenai tasawuf membuatnya cenderung untuk mengartikan beberapa istilah dalam agama Islam menurut pendekatan tasawuf. Islam, misalnya, diartikannya sebagai penyerahan hati dan jiwa hanya kepada Allah Swt dan keselamatan seorang muslim dari gangguan muslim lain. Orang beriman, menurutnya, adalah orang yang mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh Allah Swt, itu pulalah yang harus dia katakan. Orang mukmin ialah orang yang paling baik amalannya dan paling takut kepada Allah Swt, dan sekalipun ia menafkahkan hartanya setinggi gunung ia seakan-akan tidak dapat melihatnya (tidak menceritakannya).

Para sufi, menurut pengertiannya, ialah orang yang hatinya selalu bertakwa kepada Allah Swt dan memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut: berbicara benar, menepati janji, mengadakan silaturahmi, menyayangi yang lemah, tidak memuji diri, dan mengerjakan yang baik-baik. Faqih, menurutnya, ialah orang yang zahid terhadap dunia dan senang terhadap akhirat, melihat, dan memahami agamanya, senantiasa beribadah kepada Tuhannya, bersikap wara’, menjaga kehormatan kaum muslimin dan harta mereka, dan menjadi penasihat dan pembimbing bagi masyarakatnya.

Sebagaimana sufi lainnya, Hasan Basri sangat takut terhadap siksaan Allah Swt. Abdul Mun’im al-Hifni menggambarkan bahwa Hasan Basri tampak seperti orang yang selalu ketakutan. Dia selalu merasa takut karena membayangkan bahwa neraka itu seakan-akan diciptakan oleh Allah Swt semata-mata untuk dirinya. Dia dapat dikatakan sebagai ulama pendiri zuhud  aliran Basrah, seorang ahli fiqh, zuhud, dan alim dalam ilmu agama. Dia semasa dengan Sahabat Besar, oleh karena itu logis bila dia banyak mendengarkan hadits dari mereka, terutama Ibn ‘Abbas.

‘Abd Hakim Hasan meriwayatkan bahwa Hasan Basri pernah mengatakan, “Aku pernah menjumpai suatu kaum yang lebih zuhud terhadap barang yang halal daripada kamu dari barang yang haram.” Dari ucapannya ini dia membagi zuhud pada dua tingkatan, yaitu; zuhud terhadap barang haram, ini adalah tingkatan zuhud yang elementer, sedangkan yang lebih tinggi ialah, ialah zuhud terhadap barang yang halal, suatu lantaran zuhud yang lebih tinggi daripada yang sebelumnya. Dan dirinya telah mencapai tataran yang kedua ini, sebagaimana diekspresikan dalam bentuk sedikit makan, tidak terikat oleh makanan dan minuman, bahkan dia pernah mengatakan, seandainya menemukan alat yang dapat dipergunakan mencegah makan, pasti akan dilakukan, katanya, “Aku senang makan sekali dapat kenyang selamanya, sebagaimana semen yang tahan dalam air selama-lamanya.”

Related posts