Biografi Singkat Buya HAMKA : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

  • Whatsapp


Biografi Buya HAMKA | Biografi Singkat Buya Hamka | Profil Buya HAMKA | Pendidikan Buya HAMKA | Karya Buya HAMKA | Pemikiran Buya HAMKA | Wislahcom | Referensi |

Profil Buya HAMKA

Hamka lahir di sungai Batang, Maninjau (Sumata Barat) pada tanggal 13 Muharam 1362 H. bertepatan dengan tanggal 17 Februari 1908 M. Ayahnya ialah ulama Islam yang terkenal Dr. H. Abdul Karim bin Muhammad Amrullah bin tuanku Abdullah Saleh, alias Haji Rasul pembawa faham-faham pembaharuan Islam di Minangkabau khususnya dan di Sumatra pada umumnya yang dikenal pada waktu itu sebutan Kaum Muda. Pergerakan yang dibawanya adalah menentang rabithah, yang menghadirkan guru dalam ingatan, salah satu sistem yang ditempuh oleh penganut-penganut tarikat apabila mereka akan memulai mengerjakan suluk. Setelah itu beliau menyatakan pendapat-pendapat yang berkenaan dengan masalah khilafiyah.

Nama beliau sebanarnya adalah Abdul Karim Amrullah. Sesudah menunaikan ibadah haji pada tahun 1927, namanya mendapat tambahan Haji, sehingga menjadi Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria yang mempunyai gelar Bagindo Nan Batuah. Ia merupakan istri ketiga dari Haka.



Dalam perkawinannya ini Shafiyah dikaruniai empat orang anak yaitu: Hamka, Abdul Kudus, Asman dan Abdul Muthi. Dikala mudanya terkenal sebagai guru tari, nyanyian dan pencak silat. Dari geneologis ini dapat diketahui, bahwa ia berasal dai keturunan yang taat beragama dan memiliki hubungan dengan generasi pembaharuan Islam di Minangkabau pada akhir abad XXVII dan awal abad XIX. Ia lahir dari struktur masyarakat Minangkabau yang menganut sistem Matrilineal. Oleh karena itu, didalam silsilah Minangkabau ia berasal dari suku Tanjung suku Ibunya.

Pendidikan Buya HAMKA

Secara formal, pendidikan yang ditempuh Hamka tidaklah tinggi. Pada usia 8-15 tahun, ia mulai belajar agama di sekolah Diniyyah School dan Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan Parabek. Diantara gurunya adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid, Sutan Marajo dan Zainuddin Labay el-Yunusy.

Keadaan Padang Panjang pada saat itu ramai dengan penuntut ilmu agama Islam, di bawah pimpinan ayahnya sendiri. Pelaksanaan pendidikan waktu itu masih bersifat tradisional dengan menggunakan sistim halaqah. Pada tahun 1916, sistim klasikal baru diperkenalkan di Sumatera Thawalib Jembatan Besi. Hanya saja, pada saat itu sistim klasikal yang diperkenalkan belum memiliki bangku, meja, kapur dan papan tulis. Materi pendidikan masih berorientasi pada pengajian kitab-kitab klasik, seperti nahwu, sharaf, manthiq, bayan, fiqh, dan yang sejenisnya.



Pendekatan pendidikan dilakukan dengan menekankan pada aspek hafalan. Pada waktu itu, sistim hafalan merupakan cara yang paling efektif bagi pelaksanaan pendidikan. Meskipun kepadanya diajarkan membaca dan menulis huruf arab dan latin, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah mempelajari dengan membaca kitab-kitab arab klasik dengan standar buku-buku pelajaran sekolah agama rendah di Mesir.

Pendekatan pelaksanaan pendidikan tersebut tidak diiringi dengan belajar menulis secara maksimal. Akibatnya banyak diantara teman-teman Hamka yang fasih membaca kitab, akan tetapi tidak bisa menulis dengan baik. Meskipun tidak puas dengan sistim pendidikan waktu itu, namun ia tetap mengikutinya dengan seksama.

Di antara metode yang digunakan guru-gurunya, hanya metode pendidikan yang digunakan Engku Zainuddin Labay el-Yunusy yang menarik hatinya. Pendekatan yang dilakukan Engku Zainuddin, bukan hanya mengajar (transfer of knowledge), akan tetapi juga melakukan proses ’mendidik’ (transformation of value).



Melalui Diniyyah School Padang Panjang yang didirikannya, ia telah memperkenalkan bentuk lembaga pendidikan Islam modern dengan menyusun kurikulum pendidikan yang lebih sistematis, memperkenalkan sistim pendidikan klasikal dengan menyediakan kursi dan bangku tempat duduk siswa, menggunakan buku-buku di luar kitab standar, serta memberikan ilmu-ilmu umum seperti, bahasa, matematika, sejarah dan ilmu bumi.

Wawasan Engku Zainuddin yang demikian luas, telah ikut membuka cakrawala intelektualnya tentang dunia luar. Bersama dengan Engku Dt. Sinaro, Engku Zainuddin memiliki percetakan dan perpustakaan sendiri dengan nama Zinaro. Pada awalnya, ia hanya diajak untuk membantu melipat-lipat kertas pada percetakan tersebut. Sambil bekerja, ia diijinkan untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan tersebut. Di sini, ia memiliki kesempatan membaca bermacam-macam buku, seperti agama, filsafat dan sastra. Melalui kemampuan bahasa sastra dan daya ingatnya yang cukup kuat, ia mulai berkenalan dengan karya-karya filsafat Aristoteles, Plato, Pythagoras, Plotinus, Ptolemaios, dan ilmuan lainnya. Melalui bacaan tersebut, membuat cakrawala pemikirannya semakin luas.

Karya Buya HAMKA

Sebagai seorang yang berpikiran maju, Hamka tidak hanya merefleksikan kemerdekaan berpikirnya melalui berbagai mimbar dalam cerama agama, tetapi ia juga menuangkannya dalam berbagai macam karyanya berbentuk tulisan. Orientasi pemikirannya meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti teologi, tasawuf, filsafat, pendidikan Islam, sejarah Islam, fiqh, sastra dan tafsir. Sebagai penulis yang sangat produktif, Hamka menulis puluhan buku yang tidak kurang dari 103 buku. Beberapa di antara karya-karyanya adalah sebagai berikut:

  1. Tasawuf modern (1983), pada awalnya, karyanya ini merupakan kumpulan artikel yang dimuat dalam majalah Pedoman Masyarakat antara tahun 1937-1937. Karena tuntutan masyarakat, kumpulan artikel tersebut kemudian dibukukan.
  2. Lembaga Budi (1983). Buku ini ditulis pada tahun 1939 yang terdiri dari XI bab. Pembicaraannya meliputi; budi yang mulia, sebab budi menjadi rusak, penyakit budi, budi orang yang memegang pemerintahan, budi mulia yang seyogyanya dimiliki oleh seorang raja (penguasa), budi pengusaha, budi saudagar, budi pekerja, budi ilmuwan, tinjauan budi, dan percikan pengalaman.
  3. Falsafah Hidup (1950). Buku ini terdiri atas IX bab.
  4. Pelajaran Agama Islam (1952). Buku ini terbagi dalam IX bab. Pembahasannya meliputi; manusia dan agama, dari sudut mana mencari Tuhan, dan rukun iman.
  5. Tafsir Al-Azhar Juz 1-30. Tafsir Al-Azhar merupakan karyanya yang paling monumental. Buku ini mulai ditulis pada tahun 1962. Sebagian besar isi tafsir ini diselesaikan di dalam penjara, yaitu ketika ia menjadi tahanan antara tahun 1964-1967.
  6. Ayahku; Riwayat Hidup Dr. Haji Amarullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera (1958).
  7. Kenang-kenangan Hidup Jilid I-IV (1979). Buku ini merupakan autobiografi Hamka.
  8. Islam dan Adat Minangkabau (1984).
  9. Sejarah umat Islam Jilid I-IV (1975).
  10. Studi Islam (1976), membicarakan tentang aspek politik dan kenegaraan Islam.
  11. Kedudukan Perempuan dalam Islam (1973).
  12. Si Sabariyah (1926), buku roman pertamanya yang ia tulis dalam bahasa Minangkabau. Roman; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1979), Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936), Merantau Ke Deli (1977), Terusir, Keadilan Illahi, Di Dalam Lembah Kehidupan, Salahnya Sendiri, Tuan Direktur, Angkatan baru, Cahaya Baru, Cermin Kehidupan.
  13. Revolusi pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, Negara Islam, Sesudah Naskah Renville, Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman, Dari Lembah Cita-Cita, Merdeka, Islam Dan Demokrasi, Dilamun Ombak Masyarakat, Menunggu Beduk Berbunyi.
  14. Di Tepi Sungai Nyl, Di Tepi Sungai Daljah, Mandi Cahaya Di Tanah Suci, Empat Bulan Di Amerika, Pandangan Hidup Muslim
  15. Artikel Lepas; Persatuan Islam, Bukti Yang Tepat, Majalah Tentara, Majalah Al-Mahdi, Semangat Islam, Menara, Ortodox Dan Modernisme, Muhammadiyah Di Minangkabau, Lembaga Fatwa, Tajdid Dan Mujadid, dan lain-lain.
  16. Antara Fakta Dan Khayal, Bohong Di Dunia, Lembaga Hikmat, dan lain-lain.

Pemikiran Buya HAMKA

Rumusan hakikat pendidikan menurut Buya Hamka menekankan pada pembentukan karakter individu dengan warna-warna yang Islami atau dalam karya tulisannya disebut dengan istilah pribadi. Pribadi yang mapan dengan segala potensi manusia untuk mewujudkan manusia yang seutuhnya sesuai dengan jalan hidup seorang muslim. Buya Hamka dalam memandang hakikat pendidikan Islam adalah sebuah upaya untuk menumbuh-kembangkan segala potensi manusia, yaitu meliputi akal, budi, cita-cita dan bentuk fisik agar terwujud pribadi yang baik serta dapat tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari sesuai dengan panduan jalan hidup Islami.

Kemudian, tujuan pendidikan Islam menurut Buya Hamka jika melihat tulisan-tulisannya pada buku Falsafah Hidup dan Pribadi Hebat, adalah supaya anak-anak (peserta didik) disingkirkan dari perasaan menganiaya orang lain (kekerasan yang kuat terhadap yang lemah). Dengan harapan pendidikan mampu menanamkan rasa bahwa diri sendiri (peserta didik) ini ialah anggota masyarakat dan tidak dapat melepaskan diri dari masyarakat atau menjadikan sebagai orang masyarakat. Selanjutnya, pendidikan sejati mampu membentuk anak-anak berkhidmat kepada akal dan ilmunya, bukan kepada hawa dan nafsunya, serta bukan kepada orang yang menguasainya (menggagahi dia).

Buya Hamka membagi dua kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap individu dalam pembentukan pribadi itu, yaitu berfikir dan bekerja. Berfikir itu artinya mampu menyusun teori yang benar dan bekerja mampu menerapkan teori tersebut dalam proses kerja secara maksimal dengan benar pula.

Lebih lanjut menurut Buya Hamka proses atau cara pelaksanaan pendidikan Islam demi menuju kesempurnaan pribadi yang diberikan Tuhan terdiri dari dua kegiatan penting yaitu melatih berfikir dan melatih bekerja secara saling berkaitan dan menyeluruh. Selanjutnya, secara lebih rinci kedua kegiatan itu Buya Hamka menjelaskan, yang masuk dalam kelompok melatih berfikir adalah proses pendidikan dilakukan dengan diawali mengetahui bakat anak, menuntun kebebasan berfikir anak (dengan keteladanan), mengajak mereka berdiskusi (musyawarah), mengajarkan mereka ilmu-ilmu (agama dan sains secara terpadu) agar mereka dapat berkhidmat pada akal dan jiwanya. Kemudian yang masuk dalam kelompok melatih bekerja adalah mengajarkan kepada anak-anak kemandirian, tidak memaksa, dan mengajarkan sikap tanggung jawab kepada mereka (tidak terlalu dimanjakan).

Manfaat pendidikan Islam menurut Buya Hamka adalah untuk mempersiapkan anak-anak didik yang tangguh (mental maupun ilmu pengetahuan) dalam menghadapi tantangan zaman yang akan semakin berat. Secara eksplisit untuk menyiapkan generasi-generasi yang cakap dalam segala bidang kehidupan (sosial, politik, ekonomi, kesehatan, teknologi, pendidikan, dan lain-lain) dalam rangka mengisi dan mempertahankan kemerdekaan negara, agar tidak menjadi budak di negeri yang kaya. Dengan ungkapan lain pendidikan mampu bermanfaat dalam menciptakan manusia-manusia yang mandiri (manusia yang merdeka).

Related posts