Biografi Singkat Al Qusyairi : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

  • Whatsapp
Biografi Singkat Al Qusyairi : profil, pendidikan, karya dan pemikiran


Biografi Al Qusyairi | Biografi Singkat Al Qusyairi | Profil Al Qusyairi | Pendidikan Al Qusyairi | Karya Al Qusyairi | Pemikiran Al Qusyairi | Risalah Qusyairiyah | Wislahcom | Referensi |

Profil Al Qusyairi

Nama lengkapnya adalah Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad An-Naisaburi. Ia lebih dikenal dengan nama Abdul Thalhah Al-Qusyairi karena ia dikenal dari keturunan kabilah Arab Al-Qusyairi bin Ka’ab yang pindah ke Khurasan pada masa Dinasti Umawi. Al-Qusyairi lahir tahun 376 Hijriah di Istiwa, kawasan Nishafur yang merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan pada masanya. Di sinilah ia bertemu dengan gurunya, Abu Ali Ad-Daqqaq, seorang sufi terkenal. Ia selalu menghadiri majelis dan menempuh jalan tasawuf. Sang guru menyarankan ia untuk mempelajari ilmu syari’at, oleh karena itu Al-Qusyairi mempelajari fiqh kepada seorang faqih, Abu Bakar Muhammad bin Abu Bakar Ath-Thusi, juga mempelajari ilmu kalam dan ushul fiqh kepada Abu Bakar bin Faruq. Tidak hanya itu, ia juga menjadi salah satu murid Abu Ishaq Al-Isfarayani dengan menelaah karya-karya Al-Baqillani. Dari situlah Al-Qusyairi berhasil menguasai doktrin Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah yang telah dikembangkan Al-Asy’ari bersama muridnya. Al-Qusyairi wafat tahun 456 Hijriah, ia adalah orang yang mampu mengompromikan syariat dengan hakikat.

Al-Qusyairi merupakan salah seorang tokoh sufi utama dari abad V Hijriah. Kedudukannya sangat penting mengingat karya-karyanya tentang para sufi dan tasawuf aliran Sunni abad III dan IV Hijriah.



Pendidikan Al Qusyairi

Karir intelektual Al-Qusyairi dimulai dengan belajar kepada para ulama Naisabur, yang mana kota tersebut pada waktu itu menjadi pusat keilmuwan dan kebudayaan di kawasannya. Beberapa ulama besar yang pernah menjadi guru Al-Qusyairi adalah Abul Qasim al-Yamani, Abu Bakar Muhammad at-Thusi, al-Asfarayini, Abu Bakar al-Baqilani, Abu Ali ad-Daqqaq dan lain sebagainya.

Dari gurunya yang bernama Abu Ali ad-Daqqaq lah, Al-Qusyairi banyak mempelajari ilmu yang berkaitan dengan tasawuf. Tetapi, Al-Qusyairi tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu yang hanya berkaitan dengan urusan batin manusia, beliau juga mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan zahir manusia. Dan kemudian apa yang beliau pelajari, membawanya untuk menyatukan dua kutub besar dalam Islam yaitu syariat dan hakikat, yang mana pada masa Al-Qusyairi banyak para sufi yang menyimpang dalam pengamalan ajaran tasawuf.

Dibawah akan sedikit memaparkan perihal perjalan pengembaraan ilmu Al-Qusyairi :



  1. Ushuluddin, yang diperolehnya dari guru-guru bermazhab Abu Hasan al-Asy’ari, seorang imam teologi sunni.
  2. Ilmu Fiqih, yang beraliran mazhab Syafi’i.
  3. Ilmu Tasawuf, asy-Syaikh adalah seorang sufi sejati, murni dalam laku sejatinya, dan tulus dalam perjuangannya mempertahankan ajaran tasawuf sejati dari praktek-praktek tasawwuf pada umumnya. Di antara karya beliau adalah al-Risalah al-Qusyairiyah.

Di samping itu asy-Syaikh juga seorang ahli bidang filosofis Ketuhanan, penghafal hadits yang kuat, sastrawan yang menguasai bidang gramatika susastra Arab, penulis sekaligus penyair, dan seorang penunggang kuda yang tangkas dan berani. Namun, ilmu tasawwuf merupakan keahlian yang paling dikuasai dan dia lebih dikenal dengan atribut ini.

Karya Al Qusyairi

Al-Qusyairi telah mengarang dalam kitab-kitab yang berisi masalah tasawuf dan ilmu-ilmu Islam. Antara lain:

  1. Ahkam al-Syar’i.
  2. Adab al-Shufiyah.
  3. Al-Arba’un fi al-Hadits.
  4. Istifadhah al-Muradat.
  5. Balaghah al-Maqashid fi al-Tasawuf.
  6. at-Tahbir fi Tadzkir.
  7. Tartib al-Suluk, fi Thariqillahi Ta’ala.
  8. al-Tauhid al-Nabawi.
  9. at-Taisir fi ‘Ilmi al-Tafsir.
  10. al-Jawahir.
  11. Hayat al-Arwah dan al-Dalil ila Thariq al-Shalah.
  12. Diwan al-Syi’ri.
  13. al-Dzikr wa al-Dzakir.
  14. al-Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilmi al-Tasawwuf,
  15. Sirat al-Masayikh.
  16. Syarâh Asma al-Husna.
  17. Syikuyat Ahl al-Sunnah bi Hikayati ma Nalahun min al-Mihnah.
  18. Uyun al-Ajwibah fi Ushul al-Asilah.
  19. Lathaif al-Isyarat.
  20. al-Fushul fi al-Ushul.
  21. al-Luma’ fi al-I’tiqad.
  22. Majalis Abi Ali al-Hasan al-Daqaq
  23. al-Mi’raj.
  24. al-Munajah.
  25. Mantsuru al-Khitab fi Syuhub al-Albab.
  26. Nasikhu al-Hadits wa Mansukhuhu.
  27. Nahw al-Qulub al-Shaghir.
  28. Nahw al-Qulub al-Kabir.
  29. Nukatu Uli al-Nuha.

Pemikiran  Al Qusyairi

Pemikiran mengenai pemaknaan al-Qur’an di masa klasik menempati posisi yang signifikan dalam melahirkan pandangan kontroversi mengenai status tafsir sufi dalam sejarah. Pertengkaran dan pertikaian yang sering terjadi, melahirkan pandangan yang berseberangan hingga muncul tokoh yang mencoba mengkompromikan keberagaman jenis penafsiran, penakwilan serta pemaknaan ayat al-Qur’an. Salah satu konflik yang terjadi pada masa itu pertikaian pemaknaan al-Qur’an antara kaum batiniyyah dan sufiyyah. Al-Qusyairi merupakan salah satu tokoh yang muncul memberikan argumentasi untuk menjawab tuduhan bahwa praktek tasawwuf yang diterapkan oleh kalangan sufi tidaklah menyimpang dan tidak mendasarkan diri kepada al-Qur’an dan al- Hadits, sebagaimana yang telah dilakukan oleh kalangan batiniyyah. Al-Qusyairi adalah salah satu ulama yang dengan lantang membantah tuduhan bahwa kalangan sufi berlepas dari syariat. Hal ini yang melatari lahirnya karya al- Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairyyah dan Tafsir Latha’if al-Isyarat



Risalah Qusyairiyah merupakan karya Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi. Kitab ini merupakan kitab tasawuf dan dalam kitab ini selain membahas tasawuf juga membahas tentang akhlak dan etika. Etika murid terhadap guru dalam Risalah Qusyairiyah memang tidak secara langsung dijabarkan dalam bab khusus. Akan tetapi dalam bab menjaga hati para guru terdapat nilai etika yang harus dimiliki oleh seorang murid kepada gurunya.

Al-Qusyairi dalam bab menjaga hati para guru beliau sajikan dalam bentuk kisah-kisah para waliyullah dan kisah bergurunya nabiyullah Musa kepada nabiyullah Khidir. Pada kisah-kisah tersebut setelah penulis membaca, mengkaji dan menganalisis kitab tersebut dengan sumber pendukung lain dapat disimpulkan bahwa seorang murid haruslah memiliki etika kepada gurunya. Adapun etika murid kepada guru dalam Risalah Qusyairiyah meliputi:

1. Memilih dan mencari calon guru

2. Mengerti hak-hak guru dan jasa guru

3. Berbicara dengan baik dan sopan ketika dihadapan dan sopan santun ketika duduk dihadapan guru

4. Memiliki pandangan yang mulia terhadap guru serta meyakini derajat guru

5. Memiliki pandangan yang mulia terhadap guru serta meyakini derajat guru

6. Meminta izin dalam melakukan tindakan

7. Bersikap tawadhu’ kepada guru

Satu kalimat dalam Risalah Qusyairiyah yang menurut penulis sangat dalam adalah tidak akan beruntung seseorang yang menentang gurunya dan meremehkannya atau dengan kata lain seorang murid yang tidak memiliki etika terhadap gurunyatidak akan memperoleh suatu manfaat dari ilmu yang telah didapat dari sang guru.

Related posts