Aliran Syi’ah : Sejarah dan Sakte

  • Whatsapp
Aliran Syi’ah : Sejarah dan Sakte

Wislahcom | Referensi | : Syi’ah merupakan aliran kalam yang ditujukan kepada para pengikut atau pendukung Ali bin Abi Talib. Mengapa demikian?

Bagaimana sejarah munculnya aliran Syiah?

Simak penjelasan tentang : Sejarah Syi’ah, Sekte-Sekte Syiah dan Pahamnya.

Sejarah Syi’ah

Syi’ah menurut bahasa berarti sahabat atau pengikut. Dalam kajian ilmu kalam, kata syi’ah lebih spesifik ditujukan kepada orang-orang yang menjadi pengikut atau pendukung Ali bin Abi Ṭalib. Menurut Macdonald, para pendukung Ali ini tidak mau menerima penamaan diri mereka dengan Syi’ah sebagai suatu golongan atau sekte, kaum sunni yang memberi nama Syi’ah kepada mereka itu sebagai suatu ejekan. Tetapi menurut Watt, penamaan Syi’ah terhadap para pendukung dan pengikut Ali itu bukanlah diciptakan oleh lawan-lawan mereka, namun oleh mereka sendiri.

Menurut As-Sahrastani, Syi’ah adalah nama kelompok bagi mereka yang menjadi pengikut (syaya’u) Ali bin Abi Ṭalib, dan berpendirian bahwa keimaman/kekhalifahan itu berdasarkan pengangkatan dan pendelegasian (nashwashiyah) baik dilakukan secara terbuka maupun secara sembunyi-sembunyi atau rahasia, dan mereka yang percaya bahwa keimaman itu tidaklah terlepas dari anak keturunan Ali bin Abi Ṭalib.

Munculnya aliran Syi’ah tidak dapat dipisahkan dari tokoh kontroversial yang bernama Abdullah Ibnu Saba’. Abdullah Ibnu Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi berasal dari Yaman yang pura-pura masuk Islam. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa Abdullah Ibnu Saba’ ini masuk Islam dengan tujuan hendak merusak Islam dari dalam karena mereka tidak sanggup mengacaukan dari luar.

Propaganda yang pertama kali dilancarkan oleh Abdullah Ibnu Saba’ adalah dengan cara menyebarkan fitnah terhadap Khalifah Utsman bin Affan dan menyanjung-nyanjung Ali bin Abi Ṭalib secara berlebih-lebihan. Propaganda ini mendapatkan sambutan dari sebagian masyarakat Madinah, Mesir, Basrah, dan lain-lain. Dia sangat berani membuat hadiś palsu yang bertujuan mengagung-agungkan Ali bin Abi Ṭalib dan merendahkan Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaṭab, dan Utsman bin Affan. Di antara propaganda Abdullah Ibnu Saba’ adalah:

  • al-Wishoyah

Arti al-wishoyah adalah wasiat. Nabi Muhammad Saw. berwasiat supaya khalifah (imam) sesudah beliau adalah Ali bin Abi Ṭalib, sehingga beliau diberi gelar al-washiy (orang yang diberi wasiat).

  • Ar-Raj’ah

Arti ar-raj’ah ialah kembali. Ibnu Saba’ menyampaikan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak boleh kalah dengan Nabi Isa As. Kalau Nabi Isa As akan kembali pada akhir zaman untuk menegakkan keadilan, maka Nabi Muhammad Saw lebih patut untuk kembali. Ali bin Abi Ṭalib juga akan kembali di akhir zaman untuk menegakkan keadilan. Ia tidak percaya bahwa Ali bin Abi Ṭalib telah mati terbunuh tetapi masih hidup.

  • Ketuhanan Ali bin Abi Ṭalib
Baca Juga :   Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw : Latar Belakang, Pengertian, Peristiwa, dan Tanggapan Masyarakat Makkah

Ibnu Saba’ juga mempropagandakan paham bahwa dalam tubuh Ali bin Abi Ṭalib bersemayam unsur ketuhanan. Oleh karena itu Ali bin Abi Ṭalib mengetahui segala yang gaib, dan selalu menang dalam peperangan melawan orang kafir, suara petir adalah suara Ali bin Abi Ṭalib, dan kilat adalah senyumannya.

Sekte-Sekte Syiah dan Pahamnya

K.H. Sirajuddin Abbas menyebutkan, bahwa Syi’ah itu terpecah belah menjadi 22 golongan, di antaranya adalah:

  • Syi’ah Sabaiyah

Syi’ah ini adalah pengikut Abdullah Ibnu Saba’. Sekte ini termasuk syi’ah ghaliyah (syi’ah yang keterlaluan, yang berlebih-lebihan). Disamping mempercayai kembalinya Nabi Muhammad dan Ali bin Abi Ṭalib di akhir zaman nanti, juga menyebarkan paham bahwa malaikat Jibril telah keliru dalam menyampaikan wahyu dari Tuhan. Karena sebenarnya wahyu yang seharusnya diturunkan kepada Ali bin Abi Ṭalib tetapi justru diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

  • Syi’ah Kaisaniyah

Syi’ah ini adalah pengikut Mukhtar bin Ubay as-Tsaqafi. Golongan ini tidak mempercayai adanya ruh Tuhan dalam tubuh Ali bin Abi Ṭalib, tetapi mereka meyakini bahwa Imam Syi’ah adalah ma’sum dan mendapatkan wahyu.

  • Syi’ah Imamiyah

Yaitu Syi’ah yang percaya kepada Imam-imam yang ditunjuk langsung oleh nabi Muhammad Saw. yaitu Ali bin Abi Ṭalib sampai 12 orang Imam keturunannya, yaitu:

  1. Ali bin Abi Ṭalib (600-661 M), juga dikenal dengan Amirul Mukminin.
  2. Hasan bin Ali (625-669 M), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba.
  3. Husain bin Ali (626-680 M), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid.
  4. Ali bin Husain (658-713 M), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin.
  5. Muhammad bin Ali (676-743 M), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir.
  6. Jafar bin Muhammad (703-765 M), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq.
  7. Musa bin Ja’far (745-799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim.
  8. Ali bin Musa (765-818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha.
  9. Muhammad bin Ali (810-835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi.
  10. Ali bin Muhammad (827-868 M), juga dikenal dengan Ali al-Hadi.
  11. Hasan bin Ali (846-874 M), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari.
  12. Muhammad bin Hasan (868- M), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi.
  • Syi’ah Isma’iliyah

Yaitu Syi’ah yang mempercayai hanya 7 orang Imam, yaitu mulai Ali bin Abi Ṭalib dan diakhiri Ismail bin Ja’far as-Shaddiq yang lenyap dan akan keluar pada akhir zaman. Sekte Syi’ah Ismailiyah ini berkembang di Pakistan yang merupakan murid Aga Khan. Urutan imam-imam yang dipercaya oleh Syi’ah Isma’iliyah adalah:

  1. Ali bin Abi Ṭalib (600-661 M), juga dikenal dengan Amirul Mukminin.
  2. Hasan bin Ali (625-669 M), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba.
  3. Husain bin Ali (626-680 M), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid.
  4. Ali bin Husain (658-713 M), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin.
  5. Muhammad bin Ali (676-743 M), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir.
  6. Ja’far bin Muhammad bin Ali (703-765 M), juga dikenal dengan Ja’far ashShadiq.
  7. Ismail bin Ja’far (721-755 M), adalah anak pertama Ja’far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.
  • Syi’ah Zaidiyah

Yaitu Syi’ah pengikut Imam Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Ṭalib, Syi’ah ini berkembang di Yaman. Sekte ini termasuk yang tidak ghullat. Mereka tidak mengkafirkan Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khaṭab, Utsman bin Affan, walaupun berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Ṭalib lebih mulia dari ketiganya. Mengenai pelaku dosa besar, mereka berkeyakinan apabila mati sebelum taubat maka akan masuk neraka selama-lamanya.

  • Syi’ah Qaramithah
Baca Juga :   Dzikir-dzikir Agar Memperoleh Malam Lailatul Qadar

Yaitu kaum Syi’ah yang suka menafsirkan al-Qur’an sesuka hatinya. Mereka mengatakan bahwa malaikat-malaikat adalah muballigh mereka dan setan-setan adalah musuh mereka, sembahyang adalah mengikuti mereka, haji adalah ziarah kepada imam-imam mereka. Orang yang sudah mengetahui sedalam-dalamnya Allah, tidak perlu sembahyang, puasa, dan lain-lain.

Related posts